(Harusnya) Menjadi Pengantar Kitab Kehidupan
Minggu, Juli 11, 2010
Mengapa harus takut hilang dan kehilangan, sedang semua berasal dari ketiadaan. Yang harus ditakutkan adalah “merasa” hilang dan kehilangan sementara apapun itu masih dalam genggaman.
Dahulu, bukankah keinginan dan harapan adalah bentuk hasrat dalam wujud rasa di keniscayaan masa lalu? Ia menjadi teramat tertambatkan hingga semua ornamen hidupmu kau bentuk menjadi mozaik rasa yang hanya kau sendiri yang mampu melihat keindahan itu……….maka itulah keniscayaan rasa masa lalumu.
Dahulu, bukankah setiap helaan nafasmu kau tahbiskan untuk sebuah hirupan bunga melati yang kembang berseri? Ia menjadi buncahan semangat dalam taman hidumu…..dan itulah keniscayaan rasa masa lalumu, jadikan ia monumen terindah dalam laluan seluruh hidupmu kelak
Di setiap perhentian hidup laluku, kelak akan kubangun sebuah monumen lengkap dengan arca dan gapura serta bokor bunga yang setiap hari kutabur dengan melati segar. Arca kubentuk dengan seringai senyum tulus bak Semar yang memberi tenang pada amarahnya Bima, gapuranya kubuat serapat mungkin hingga hanya aku yang mampu melewatinya, atau akan kusaring setiap pengunjung dengan identitas keikhlasan setiap beribadah di dalamnya.
Laluan jalan yang terlewati tetap tak berubah, rimbunan tampak meneduhi, temaramnya tetap memberi terang bahwa aku pernah disini, bahwa aku pernah menghamba pada diriku yang lain hingga penghambaan itu berubah wujud seketika aku menjadi aku dalam ragaku.
Langit mencurah gairah, helaan penat sang pengantar memberiku ingat bahwa semua yang ada adalah anugerah, bahwa anugerah adalah bentuk jamak dari keikhlasan, bahwa anugerah adalah pameo yang seharusnya menjadi cemeti kelunglaian sang nestapa.
Dan termenung….
Menyeruak ke-takdiran di kisi-kisi ambisi, agitasinya menggetas memberi absurbi logika dalam setiap putaran kebimbangan yang lebih dahsyat dari berputarnya sang Buruuj dalam sangkar langit.
Dan termenung….
Betapa tak terasa monumen itu kelak akan kubangun dengan ke-setengahanku, ke-takmampuanku, sedang aku sangsi bahwa monumen itu adalah kesatuan utuh atas logika dan pengharapan.
Dan termenung….
Seluruh laluanku kuhentikan pada nadir kini, tak perlu mencari sisi lain atas birama ini, tak perlu mencari jawab atas menggetasnya ketukan yang setiap nadanya adalah kelunglaian, sebab semua monumen yang kelak akan kubuat adalah monumen-monumen terindah yang pernah ada.
Langit tetap mencurah gairah, meski lamat-lamat, setiap petir yang mengiring bak karomah laluan laluku, ia tetap setia dengan kefakiran dirinya atas ke-bukanan aku dalam dimensi yang jelas bukan kesatuan utuh dari logika dan pengharapan.
Wahai monumenku kelak… Kupastikan taburan melatimu akan tetap selalu segar….
Itulah kitab hidup dan kehidupan, jilid-jilidnya sudah diatur sedemikian rupa hingga kau harus memahami setiap jilid seusai anda khatam atas jilid itu, SEGERA PAHAMI…. Sebab jilid-jilid yang lainnya tak mungkin bisa menunggu untuk kau baca dan segera pahami kembali.