Semar Berkata Bebas
berbagi kata dengan rasa... berbagi rasa dengan hati...

Aku dalam Ragaku

Minggu, Maret 21, 2010


Jika raga ini adalah seonggok daging dan rangkaian otot bertulang maka ia adalah sebuah sistem yang maha sempurna dalam kacamata makhluk. Aliran darah memberi asupan udara atasnya guna memberi yang terbarukan, sel berkembang, berganti dan menjadi baru lalu kemudian membusuk bersama dengan cacing-cacing dan bakteri-bakteri yang ia bawa dalam lubang tanah seluas 1 x 2 meter, tak lama berselang tubuh sempurna itu menjadi seonggok rangka belulang yang tak berdaya.
Keniscayaan itu belum aku rasakan, mungkin menjelang atau mungkin aku sudah menjadi rangka belulang tadi dalam dimensi yang lebih besar dari 1x2 meter.
Apapun itu, entahlah niscaya itu sedang aku rasakan prosesnya.Lalu dimana aku dalam raga yang hendak membusuk ini?

Ketika raga ini masih berbentuk janin dalam rahim ibuku, selalu kudengar lembut lirih doanya di setiap malam agar aku adalah berarti bagi raga ini.
Ketika bertumbuh, selalu kurasa bahwa setiap helaan nafasnya adalah doa termakbul bagi aku dalam raga yang tumbuh, setiap keringat dan air matanya menjadi jargon baru dalam memberi saksi bahwa aku dalam raga ini adalah buah keindahan Ia.
Ketika dewasa, bahwa setiap berubah renta dan pipi tirusnya ibuku adalah lonceng-lonceng pengingat akan aku adalah ruh penggerak dan penebar cinta bagi aku dalam raga ini.

Ibu rentaku yang cantik.... Haturan maaf yang suci mungkin tak pernah lisan kau dengar, sujud lunglaiku bersimpuh di telapak surgamu mungkin tak jua kau rasa menghamba.... Tapi aku dalam raga ini entah kemana... Mengapa dan bagaimana ia begitu menjadi sisi lain dari setiap doamu masih menjadi tanda tanya besar yang tak berusaha kucari jawab atasnya dengan segala kebodohan yang kupunya

.Ibu rentaku yang cantik.... Seketika berputar bagi sirkel tak berkesudahan aku dalam kebingungan yang tak pernah dan tak akan pernah kau ajarkan pada aku dalam raga ini bahwa 'mengapa aku dalam raga ini bukanlah aku yang selalu kau hembusi dengan doa, cinta dan harapan, dan itu adalah aku dalam raga ini, raga yang mungkin telah menjadi belulang di demensi kefanaan.

Ibu rentaku yang cantik.... Terlalu pelik ketika aku mencari jawab atas tanya siapa aku dalam raga ini kuhaturkan padamu, dan tak ingin pula ini menjadi bebanan dirimu dalam bungkusan raga renta penuh keikhlasan yang cantik.

Maka kusayang engkau dengan aku mu, kuseka setiap keringat lelahmu dengan aku mu, kubasuh noktah sedihmu dengan aku mu, kumuliakan deraian senyumu dengan aku mu, kutahbiskan kepenatanmu menjadi pelita dengan aku mu.... Dan biarkan aku dalam raga ini tetap menjadi tanya yang tak terjawab atas aku mu yang selalu ada dalam setiap doa-doa malam mu.
(Bandung, 1 Maret 2010)
Read On 28 komentar

Tawaf Kehidupan (antara Ketakutan dan Keinginan)

Selasa, Maret 16, 2010



Syahdan, manusia adalah makhluk terindah Tuhan yangdilengkapi dengan kelengkapan yang tidak makhluk lainnya miliki.
Hati, akal dan nafsu adalah elemen esensi dari kelengkapan tadi, sebagai penggerak manusia dalam bertawaf menjalani tugasnya di kefanaan ini.

Adalah tawaf, aksi melingkar, mengelilingi sumbu kehidupan, bertasbih dalam derain dzikir, wujud aksi dari pencapain harapan, hingga ber ma'rifah dengannya.
Energi kinetisnya menjadi teramat dahsyat seketika hati, akal dan nafsu bersinergi membuat irama tawaf begitu indah, ritmenya bagai niche nyayian alam yang sempurna.
Dan menjadi neraka fana ketika hati, akal dan nafsu tak lagi berada dalam fitrahnya, tipis antaranya namun besar konsekwensinya.

Dan adalah hati, elemen terlemah dari rangkaian ini, ia menjadi ringkih seketika kungkungan logika berkutat dalam ketakutan dan keinginan, yang menjajah setiap ruang kapiler akal, output yang menyakitkan bathin bahkan bernilai biasa seketika paradoksal aksi berwujud dengan sombongnya memberi luka definisi tawaf tadi, hati menjadi lemah bahan memudar dalam hitungan helaan nafas tatkala euphoric stimulus terolah menjadi bad euphoric stimulus (Ganzel, 2004)dalam kejumudan, kesemrawutan akal, Gozlun Fikr (Hasby, 1999).
Ya ia, adalah elemen terlemah dalam rangkaian ini.

Lalu nafsu, emosi, energi mosi (gerakan) yang seharusnya menjadi penyaring terakhir menjadi sangat apatis ketika asupan mentah dan ringkih hasil olahan rasa (hati)dan logika (akal)mengisi kinetisme elemen ini, dan tak mungkin disangkal oleh apapun wujud yang terlihat pasti tak nampak indah, tawaf itu tak lagi indah, tak beraturan. Lebih buruk, merusak keseimbangan tawaf makhluk lainnya.

Sobat Tawaf adalah keniscayaan kita dalam kefanaan ini, ia menjadi jalur rutin yang dinamis, dihiasi oleh berbagai noktah-noktah ketakutan dan keinginan yang iramanya semakin indah ketika sentrifugalnya menarik setiap kita larut dalam irama tasbih kita, dzikir kita. Tawaf terindah adalah tawaf kita yang begitu bernilai memberi keseimbangan pada tawaf makhluk lainnya, pada tawaf-tawaf makro lainnya.

...... jangan takut untuk bertawaf, biarkan setiap kerikil jalurnya membuat luka, memberi guratan sebagai tanda bahwa kita memiliki keinginan dan harapan atas apa yang kita nilai layak untuk berma'rifah atasnya.......

...... kuatkan keinginanmu untuk terus bertawaf, biarkan setiap sembilu jalannya memberikan tanda bahwa ketakutan itu ada dan kita tidak sedang berada di dalamnya.....

Hingga lingkaran tawaf itu mengecil, menuju pusat sumbunya dengan kebanggaan kita mengahadapNya


*untuk semua pendamping tawafku, terima kasih telah membuat tawafku begitu indah*
Read On 18 komentar

Rich Dad Poor Dad

Selasa, Maret 09, 2010


Sudah lebih dari 3 kali buku ini saya baca, ya lumayanlah itung2 refreshing otak dan pelipur bu'ung (bahasa : sumpek, bengong, bete).

Insight nya lumayan dalem dan membuat kita berada dipersimpangan, jalan mana yang akan kita ambil dalam mendidik anak untuk urusan keduniawian mereka, dua pilihan ini sama sifatnya hanya berbeda dalam memberikan pondasi saja. Bahkan ada yang sarkas menyebut buku ini sebagai 'pembelajaran liberasme keuangan' sedini mungkin. Tapi apapun sebutannya untuk saya buku tetaplah sebuah buku yang aplikasinya tetap bergantung dari nalar kita.

Sobat, adalah sebuah keharusan bagi kita memberikan pemahaman sedini mungkin kepada anak2 kita, betapa waktu adalah karunia, memberikan pemahaman bahwa waktu begitu berharga adalah kewajiban kita, terlepas dari makna buku ini, kita adalah panutan bagi mereka, seperti apa kita itulah yang direkam oleh mereka, maka pondasi awal untuk mereka adalah kita, orang tua, manusia yang paling bertanggung jawab hingga ia dewasa kelak.

Sobat, kadang kita lupa bahwa rekaman masa lalu kita dan kelunglaian kita sekarang dipertontonkan dengan vulgar untuk kemudian direkam oleh mereka, membekas dan (naudzubilah) tertanam dalam pola hidup mereka kelak.
Apapun sumbernya, baik itu 'Rich Dad' maupun 'Poor Dad' tak ingin mereka melihat kita dalam bentuk dan wujud kita yang apriori terhadap masa depan.... Nah itu makna dari apa yang saya baca. :)

Afifah.... Maafkan ayahmu nak, maafkan atas ketelanjangan ayah di hadapanmu, yang tak pernah menyaring ulang apa yang terbaik bagi dirimu, yang dengan seringai senyum lugu dan tangis lirihmu manusia ini seakan tak tahu apa yang terbaik bagimu kelak.

Afifah.... Maafkan ayahmu nak, maafkan atas ke-taktahuan ayahmu akan apa yang terbaik bagimu kelak, manusia ini begitu sibuk memikirkan apa yang terbaik bagi dirinya kelak disela-sela ke-apriorian yang terus menggila. Nanar matamu tak jua membuat tersadar... Maafkan ayahmu ini nak..

Afifah.... Hiasi duniamu dengan apa yang terbaik bagimu dalam takaran dan kapasitasmu, namun yang terpenting berilah nilai yang terbaik bagi diri dan kehidupanmu...

(Semoga kelak engkau masih bisa membaca tulisan ini dan mengenang ayahmu tanpa terpangaruh oleh buku 'Rich Dad Poor Dad ini)
Read On 29 komentar

Si Jagur

Minggu, Maret 07, 2010


Perkenalkan.... inilah Si Jagur... :)

Sarana sederhana jauh dari kesan bagus apalagi mewah, namun ketika bersamanya sejuta cita-cita dan hasrat Semar pernah, sedang dan akan terus ada.... hmmm tengkyu Jagur... :)

Lalu kenapa namanya Jagur ? hehehe.. kayak meriam ya

Jagur mungkin berasal dari kata Jago, makanya di beberapa lokasi bekas benteng kolonial Belanda dulu, beberapa meriam dinamakan Si Jagur, karena pada saat itu meriam memang betul-betul Jago dalam melemahkan serangan lawan... so bergesar istilahlah ke Si Jagur hehehehe.. Jadi intinya Semar pengen sarana ini menjadi jagoan Semar dalam menjalani hidup, bukankan kita hidup tidak bisa sendiri bahkan jika kita punya belahan jiwa pun kita tetap harus punya sarana pendukung yang jagoan.... Tapi memang seperti itulah sarana Semar ini, kalau semar wayang karena dengan kesaktiannya tidak memerlukan sarana/kendaraan dalam mengabdi pada kebenaran, maka Semar yang inimah perlu pisan, soalnya ga sakti ... hehehe

Sobat... kadang kita, dengan kesibukan dan keseharian yang rutin seringkali melupakan beberapa benda mati yang sangat berjasa melewatkan kita dengan fungsinya dari hari ke hari, bukan mem-bombastis “Si Jagur”, atau sejenis pemaksaan “ayo beri nama saranamu!” atau apapun itu pesannya, tapi sadar tidak sadar kebenda-matian sarana kita akan terasa bermakna jika kita memang memaknainya, sebut saja sepatu.... sahabat saya masih menyimpan sepatu pertamanya ketika ia memulai menjadi hiker, jika ditanya mengapa? Atau penuh kenangankah sepatumu itu? Ia tidak membenarkan, jawaban sederhananya adalah : karena dengan sepatu itu saya mengenal siapa saya, bukan karena kenangan sudah pernah saya pakai ke gunung A atau ke gunung B, tapi makna sepatu itu buat saya adalah saya mengenal diri saya ini adalah seorang pendaki gunung profesional dan ketika saya tidak merasa sebagai pendaki gunung saya tinggal memandangnya...

Jadi intinya adalah, semua makna kebendaan yang kita miliki akan menjadi “refresher” saat kita lunglai, saat kita memerlukan motivasi.... jadi teriakannya adalah “Ayo maknai benda matimu” hehehe.. *sambil doain ya... semoga si Jagur Semar cepat berubah wujud menjadi si Jaguar.... hahahaha*

(Bandung, medio November 2009)
Read On 20 komentar

Tetap Bertaut

Share/Save/Bookmark

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner



RSSMicro FeedRank Results

PageRank My BlogCatalog BlogRank

Multiply the traffic to your website... FREE

Dukung Semar di....


100 Blog Indonesia Terbaik
Top Global Site

Kemenakan Semar


Wadya Balad Semar

Semua Link dan Banner ada di dalam gambar ini, silahkan klik....

Wadya Mahkota Semar

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya letakan Award dari sobat semua dalam gambar di bawah ini, silahkan di-klik jika berkenan melihatnya :

Bertukar Link

Banner Link

Photobucket
Text Link

Yang Paling Berkata Bebas

Yang Sudah Berkata Bebas