Semar Berkata Bebas
berbagi kata dengan rasa... berbagi rasa dengan hati...

(katanya) refleksi di penghujung masa

Kamis, Desember 24, 2009

Waktu, adalah dimensi penggerak akan semua ke-statisan kehidupan. Makhluk Tuhan yang satu ini adalah ornamen terdahsyat dalam rentangan makhluk lainnya, mulai dari renik hingga bentangan jadad raya.
Di dalamnya semua rencana dan tak rencana terwujud dengan sempurna dalam tali kepatuhan pada Sang Pencipta. Semua asa dilekatkan atasnya sekaligus bergerak dalam rel lurusnya, tak ada jeda dalam kesesuaiannya, begitu teratur dan rapi.

Manusia, kita, adalah makhluk lain yang hanya memiliki dimensi ruang dalam skala jagad, ia begitu ringkih dan rapuh, sampai-sampai satu sumbatan kecil dalam aorta akan membuat ia tak berdaya. Kedigdayaannya akan pupus seiring sang waktu, dalam rel lurusnya, memberi ia ujung dalam dimensi waktu fana.

Lalu siapa sebetulnya yang lebih perkasa atas kedua makhluk ini?
Bukankan setiap sekon kapiler teraliri darah dalam menunjang nyawa?
Bukankah dalam hitungan detik setiap tarik dan hembusan udara membuat seluruh rongga daging menjadi terbarukan?
Bukankah dalam hitungan menit sel-sel raga ini menjadi tua, hingga tak tergantikan kembali?
Bukankah dalam imla-an jam metabolisme tubuh ini menjadi bergerak, hingga nanti, hingga tak bersirkel kembali?
Bukankan dalam setiap putaran bumi berotasi dalam porosnya seluruh kita menjadi tua?

Lalu apa kita atas waktu, dan apa waktu atas kita?

Semua pertanyaan retoris bodoh ini niscaya akan menjadi jeda renungan guna merefleksi apa, siapa dan bagaimana kita hingga akhir masa nanti, tentu tetap dalam dimensi waktu yang bergerak lurus dalam rel nya.

'Jika ini akhir masa buatku, maka adalah sebuah keniscayaan yang tak pernah nalar ini menyentuhnya.'

*****

Ditulis oleh : Semar
Read On 30 komentar

Ujian Mang Endim....

Senin, Desember 21, 2009

Siang bolong begitu menyengat dengan matahari serasa membakar.Sambil menyeka peluh yang bercucuran bak mata air ( halah lebay *mode on hehe ) Mang Endim terus berjalan.Menjajakan siomaynya. Tumben jualan Mang Endim hari ini agak berkurang pembeli.Biasanya sioamay yang dijajakan Mang Endim selalu laku keras ,sampai-sampai dua kali putaran ,dan kembali pulang untuk mengambil siomay tambahan.Yang akan dijajakannya.Tapi hari ini siomay nya satu putaranpun belum habis.Tanpa ada keluhan Mang Endim terus berkeliling menjajakannya.Mungkin hari ini memang rezekinya lagi seperti ini ,gumam Mang Endim .Begitu sabar ya Mang Endim.


Dijalan,ada seorang ibu pengemis menggendong seorang bayi.Sambil menangis mengharukan.Dengan kelembutan hati Mang Endim,dihampirinya perempuan pengemis itu." Maaf,ibu kenapa nangis ?" tanya Mang Endim lembut.

"Saya lapar tapi tidak punya uang untuk beli makanan!" jawab pengemis itu.

Sambil ngarenghap * ( baca: menghela nafas panjang) Mang Endim istighfar mendengar keluhan pengemis itu.Tak tega rasanya melihat seorang wanita sedang menyusui belum makan seharian.Dan anak-anaknya yang lain menunggu dirumahnya sedang kelaparan.

" Ibu ,ambil siomay ini untuk makan dengan keluarga dirumah ..." ujar Mang endim sambil menyodorkan bungkusan agak besar ,ternyata semua jualannya dia bungkus untuk diberikan pada pengemis itu.Pikirnya bila tidak habis sisa siomaynya yang masih banyak ,akan basi bila tidak buru - buru dimakan.Sungguh mulia hati Mang Endim ya.


"Ga rugi Mang,siomaynya diberikan begitu saja ?" tanyaku sama Mang Endim

"Sekarang gini nden,tumben-tumbenan dari pagi siomay 'Mamang' ga habis itupun baru satu putaran.Ternyata Allah akan memberikan rezeki pada pengemis itu lewat saya dengan siomay yang saya jual.Dan ujian buat 'Mamang' sebagai orang beriman dikala diuji seperti ini.'Mamang' yakin janji Gusti Allah kalo kita sodaqoh dalam keadaan darurat dengan yang kita miliki pas-pasan,insyaallah Allah akan membalasnya dengan dua kali lipat dari apa yang kita berikan terhadap orang lain yang membutuhkan,catatan ikhlas 'nden'...!"......


Subhanallah,benar-benar bijak dan sholehnya Mang Endim .Gumam saya dalam hati.


Dengan mendorong gerobak siomaynya yang sudah kosong.Mang Endim berlalu dengan wajah yang bersinar oleh pancaran keikhlasannya.


Saya hanya termangu memandang Mang Endim dari belakang.Sambil nugguin Semar yang benar-benar lenyap tanpa kabar.Sempat,Semar ngasih kabar sambil ngasih tahu kalo peralatan untuk bersih-bersih ada digudang.Melihat keadaan rumah Semar tanpa ada penghuni,akhirnya saya bersih-bersih...seperti biasa nyapuin dan rapi-rapi untuk meletakan hiasan postingan dengan selera saya.Untuk dinikmati oleh pengunjung Semar,walau mungkin kurang pas meletakkan hiasan postingannya.


Duduk-duduk dulu... ah, nunggu barangkali aja ada tamu yang datang ke Semar,kasian kan ga ada pribuminya .....mmm....sambil sruput teh tubruk panas,meuni nikmat...:).Semarwati paling suka dengan teh tubruk hehe.



Read On 18 komentar

Tetap Bertaut

Share/Save/Bookmark

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner



RSSMicro FeedRank Results

PageRank My BlogCatalog BlogRank

Multiply the traffic to your website... FREE

Dukung Semar di....


100 Blog Indonesia Terbaik
Top Global Site

Kemenakan Semar


Wadya Balad Semar

Semua Link dan Banner ada di dalam gambar ini, silahkan klik....

Wadya Mahkota Semar

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya letakan Award dari sobat semua dalam gambar di bawah ini, silahkan di-klik jika berkenan melihatnya :

Bertukar Link

Banner Link

Photobucket
Text Link

Yang Paling Berkata Bebas

Yang Sudah Berkata Bebas