
Prosa-prosa takdir dalam lemari ingatanku tak semua membekas, kadang mereka membiarkan aku dalam kebingungan, kadang ketakutan tercipta olehnya. Entahlah, manuskrip-manuskrip itu berguna kelak atau hanya sebatas pajangan yang sekali waktu bisa kubaca dengan tawa atau air mata. Niche mereka beragam, ada sebatas angan yang terjawab lalu menghilang atau sarkasme atau bahkan sebait syair cengeng. Semua tertata dalam rak-rak saraf ingatanku.
Dan.... Senarai masa mengulang beberapa prosa tadi, wujudnya tak berubah hanya sampulnya yang lebih indah, membuat terperangah dan sejenak menepikan harapan akan sebuah kenyataan kelak. Jika ini niscaya maka tak satupun penjelasan logis akannya membuat aku kembali merenung, namun jika ini sebuah absurbi maka tak jua membuatku penat meski deraan siksa kerapuhan logika terus menyerta.
Terkadang penolakan atas pengulangan prosa ini mencari celah untuk dilekatkan dalam niscaya pembenaran, atau bahkan ini aku anggap sebuah nicaya yang tak akan bertepi, berulang dalam satu masa dan kembali terjadi dalam masa yang lain.
Syair dalam satu prosa........
Indah... Teramat indah hingga keindahan itu adalah ia, membuat definisi baru akan keindahan itu sendiri, mandiri dan terlepas dari tema dan warna prosa itu sendiri. Dengannya semua kelekatan rasa dan logika tak pernah dipaksa atau terpaksa, bagai sang mentari yang menjaga keseimbangan rotasi bumi, berirama dan menghidupi.
Lirih, duka, bahagia dan gembira adalah warna syair tadi sedangkan kesetubuhan adalah maknanya.
Berlangsung.. Berlanjut... Menolak segala absurbi dan kenisbian, memberi ruang akan sesuatu yang tak pernah ada sebelumnya......dan itu adalah keindahan.
Hingga......... Sang mentari tak mampu menjaga keterikatan atas gravitasinya, menjadi puing dalam bentuk keindahan yang lain, namun tak merubah definisi atasnya.
... Jika ini adalah keindahan maka syair tadi akan tetap indah meski tanpa kehidupan, tanpa sang penikmat
.... Jika ini adalah prosa pertama yang akan berulang kelak, dimana sang mentari? Akankah kesetubuhan tetap berwujud tanpanya?
Lemari itu semakin rapuh, sanggaan tiangnya mulai termakan rayap-rayap keinginan... semoga berulanglah semua prosa keindahan itu.
28 Februari 2010 pukul 09.27
Bahasanya enak, meski saya harus berpikir keras memahami maknanya hehehehe
Spertinya mas semar baru kehilangan sesuatu, dan berharap deja vu ya mas ?
28 Februari 2010 pukul 16.35
Sayang anda anonim, jadi saya tidak bisa membalas komen anda dengan sempurna. Tapi terima kasih atas komentarnya dan dugaan anda tepat sekali :)
3 Maret 2010 pukul 17.11
:)
Tidak berlebihan, mas Semar.... tetapi pas...
menyentuh dan sangat manuasiawi....
3 Maret 2010 pukul 17.16
eh, ada yang lupa...
Gambarnya bagus... penuh makna...
3 Maret 2010 pukul 18.03
@Blink : terima kasih untuk komen dan pujian gambarnya. Kadang absurb mengharap sesuatu terulang kembali demi sebuah harapan, tapi percayalah saya pernah pada kondisi seperti itu dan semoga pengharapan tadi bukan karena buah dari ke-takberdayaan....
4 Juli 2010 pukul 16.43
Wah, saya harus baca berulang-ulang untuk dapat maknanya... Masih banyak yang kelewat nih, baca lagi ah....
9 November 2010 pukul 12.18
suka banget ama kata katanya :))
20 Desember 2010 pukul 09.30
keren postingannya kakak
thanks atas infonya ya
27 Juni 2012 pukul 22.17
berbagi Kata Kata Motivasi
Kenalilah ciri-ciri fisik kalian sebelum memutuskan untuk memilih pakaian, sesuaikanlah dengan bentuk tubuh.
semoga bermanfaat dan dapat di terima ya :D
21 Januari 2014 pukul 05.28
kunjungan selasa pagi, silahakan berkunjung balik,ada video clip terbaru dari saya, trm ksh dan selamat beraktifitas. sukses selalu menyertai kita semua amiin
9 Juni 2015 pukul 15.40
Berita Sepak bola
cerita dewasa
lotere indonesia
nonton bokep
Nonton Movie Online
Film Bioskop Terbaru
Posting Komentar
Berkata-kata lah dengan bijak dan membuat arti, jangan takut untuk berdebat. Lebih sempurna jika menggunakan Nama dan URL sobat